Hahaha, bukan… Muka saya ga mirip tong sampah. Kecuali tong sampahnya berbentuk mukanya Agnes Monica, saya tidak bersedia dimirip-miripin sama tong sampah.
Saya jadi inget sama ‘ penderitaan’ yang saya alami saat saya berusaha membuat perubahan di lingkungan saya. Lagi- lagi ini juga gara2 saya baca e-booknya Pandji. Dan saya juga ingat beberapa tokoh pernah bilang, bahwa membuat sebuah perubahan itu tidak mudah. Tapi, maaf saya lupa siapa tokoh itu
. Ingatan saya payah…
Dan itu benar.
Saya adalah seorang anak yang diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan oleh orang tua dan guru2 di sekolah saya. Dan, saya benar2 mematuhi hal yang satu itu.
Kaitan sampah dengan bencana dan keruskana lingkungan telah diketahui seluruh penduduk bumi. Lalu, mengapa mereka- kita masih saja gemar sekali buang sampah di kali/ sungai, di jalan, di selokan? Padahal pemerintah sudah menyediakan tong sampah di setiap sudut kota.
Pemerintahnya sudah ngasi instruksi yang benar, sudah menganjurkan yang benar, tapi dasar masyarakatnya yang ndablek, susah dibilangin…
Dan, ‘penderitaan’ saya berawal dari ketika baru saja masuk kuliah.
Ketika saya dan teman2 duduk, makan dan berbincang di bawah sebuah pohon ( entah itu pohon apa, semoga bukan beringin
), saya menyimpan bungkus bekas snack yang saya makan di dalam tas.
Seorang teman bertanya, ‘ Kenapa plastiknya disimpan di dalam tas, Sil? Mo dikoleksi? ‘
Saya langsung menjawab, ‘ Ga lah, ngapain juga. Ntar aja dibuang kalo ketemu tong sampah.’
Serta merta saya melihat mata teman2 baru saya melotot. Kaget, mungkin… Entahlah…
Selanjutnya reaksi mereka seperti yang sudah saya duga, ‘ Buang aja disini, ga ada yang liat juga…’
Dan selanjutnya, mereka mendapatkan ceramah singkat dari saya, tentang bagaimana menjaga lingkungan yang bersih. Bahwa kebersihan itu untuk dinikmati bersama, lalu kenapa kita tidak mau menjaganya bersama- sama? Bahwa, kelestarian lingkungan itu bukan cuma tugas dinas kebersihan, bukan cuma bapak- ibu penyapu jalanan saja yg bertugas membersihkan kota.
Dan, kemudian saya ditatap aneh, teman2 mencibir saya, mengatakan bahwa itu tidak ada gunanya. Bagaimana mungkin, bla bla bla…
Saya tidak peduli, saya hanya mengatakan ‘ Jika lingkungan kita bersih, bebas sampah, jangan lupa, saya adalah salah satu orang yang turut membersihkannya. Dan, saya bangga akan itu. ‘
Entah mereka mengerti atau tidak…
Tapi, saya tidak peduli dengan julukan ‘ sok bersih’ yang mereka lontarkan. yang saya tahu, saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai seorang masyarakat.
Ketika suatu ketika saya menungut sampah yang berserak di pinggir jalan dengan kedua tangan saya, beberapa orang menatap aneh. Mungkin mereka mikir, kok ada yah cewe cakep mau berkotor- kotor ria dengan sampah?
Mungkin, itu hanya ada dalam pikiran saya.
Yang jelas yang mereka pikirkan adalah, apa yang sebenarnya sedang saya lakukan?
Dan, pertanyaan itu terlontar ketika ada seorang anak SD yang melihat aksi pungut sampah saya itu.
‘ Kak, ngapain ngutip2in sampah kaya gitu? ‘
Saya cuma tersenyum dan bilang ‘ Keberatan ga bantuin kakak mungutin sampahnya dan buang ke tong sampah yang ada di sudut sana?’ sambil menunjuk ke arah sebuah tong sampah berwarna hijau yang teronggok dengan manis.
Anak itu, yang kemudian saya ketahui bernama Dani, mengangguk.
Dia, dan beberapa temannya membantu saya memungut sampah yang berserakan di lapangan itu.
Dan, cliiiiing…Semua hilang dalam sekejap. Bersih, enak sekali dipandang mata.
Selesai mengerjakan itu, Dani dan teman2nya yang masih duduk di kelas 4 SD itu bertanya, ‘ Sebenarnya apa sih yang kita lakukan tadi kak?’
‘ Menjaga kebersihan, dan menyelamatkan lingkungan. ‘
Mereka mengangguk, mengerti, paham, dan tersenyum lebar…
‘ Oke kak, besok aku mau bilang ke teman2 yang ada di sekolah untuk ga bole buang sampah sembarangan. Aku seneng deh kak, tadi bisa bantuin kakak ngutipin sampah dan membuangnya di tong sampah. Bisa bikin lingkungan sehat. Kaya pahlawan rasanya. ‘
Lugu…
Lucu…
Dan membuat saya sangat senang, mereka bisa mengajak teman2 lainnya untuk terus menjaga kebersihan.
Haha, dan ternyata peristiwa itu dilihat sama salah seorang teman kuliah saya.
Besoknya berita itu tersebar, mereka membicarakan saya.
Bukan, bukan ngata2ain saya si sok bersih, tapi si tong sampah berjalan…
What de faaaaaaak…
Seeett dahhh…
Di tengah cibiran itu, saya ga peduli, saya tetap buang sampah di tempatnya, saya tetap memungut sampah yang dibuang teman2 saya dan membuangnya ke tong sampah…
Saya tidak malu, saya tidak takut, saya tidak minder…
Saya ingin membuat perubahan, dan saya tahu itu tidak mudah.
1 bulan, 2 bulan, 3 bulan…
Penantian saya tidak sia2. Suatu ketika saya bertemu lagi dengan Dani di sebuah acara amal. Dani dengan teman2nya yang lucu, dan saya dengan teman2 saya yang sama sekali tidak lucu.
Ketika seorang teman membuang sebuah bungkus permen ke tanah, Dani nyeletuk, ‘ Ihh, abang kok buang sampah sembarangan? ga bole bang, kata bu guru ntar jorok, banyak kuman trus bisa banjir, Kak Desil aja bilang gitu juga. Masa ga diajarin sih di sekolah, kan uda mahasiswa… ‘
Teman saya salah tingkah, saya hanya tersenyum dan bilang ‘ Iya, Dani. Abang ini lupa aja kok, biasanya juga dia buang sampah di tong sampah, ya kan? ‘ Saya berkedip ke teman saya tadi.
Dia tertunduk, malu dan memnugut bungkus permen yang dia buang tadi dan mengantonginya.
Saya senang, saya menang…
Si kecil Dani, dan teman2nya, generasi sangat muda yang dimiliki Indonesia, telah membantu saya untuk membuat perubahan. Perubahan dalam cara berpikir bahwa kebersihan itu adalah hak dan kewajiban kita semua.
Sejak saat itu, teman2 kuliah saya tidak pernah acuh dengan sampah. Mereka buang sampah pada tempatnya, walaupun ada yang tidak
. Tapi mereka tidak berhenti saling mengingatkan. Membuat rantai ini jadi semakin panjang. Rantai inilah yang nanti saya harapkan untuk menjaga lingkungan kita, tanah kita, bumi kita.
Saya bangga!
Telah menjadi seseorang yang turut menjadi bagian dari rantai itu.
Bagi saya itu kebanggaan dan prestasi, dimana cara pikir dan tindakan saya bisa membuat perubahan besar di diri orang lain. Lalu, sama2 membuat perubahan itu terealisasi.
Semoga semakin banyak lagi orang yang mau menjadi bagian dari rantai ini.
Semoga tercipta lingkungan yang bersih, sehat, aman, menyenangkan, indah dan jauh dari bencana.
Mulai sekarang, yuuuk buang sampah di tong sampah…
Jangan biarkan saya yang memungutnya sendirian, saya butuh bantuan kalian teman…